Kamis, April 15, 2021
BerandaTerkait Menara Monopole di Sekolah Satria, PTSP Jakbar: Tak Terdaftar
Array

Terkait Menara Monopole di Sekolah Satria, PTSP Jakbar: Tak Terdaftar

Jakarta, faktapers.id – Unit Pelaksana (UP) PTSP Kota Administrasi Jakarta Barat buka suara terkait keberadaan monopole yang berdiri di sisi sekolah Yayasan Satria, Srengseng, Kecamatan Kembangan.

Plh Kepala Unit Pelaksana Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Kota Jakbar Siti Yanti Kusumahati menjelaskan melalui surat tertulisnya bernomor 3219/-1.785.51 tanggal 21 Agustus 2019 yang ditujukan kepada Law Firm Fakta Meruya & Partners selaku kuasa hukum Yayasan Satria.

Dalam suratnya itu, Siti Yanti Kusumahati menegaskan bahwa tiang atau antena telekomunikasi yang berdiri di Jalan Raya Srengseng RT 05/06 Kelurahan Srengseng, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat ternyata tidak terdaftar pada database UP PTSP Kota Adm Jakarta Barat.

Pihaknya, ungkap Siti, telah melakukan peninjauan lapangan pada 6 Agustus 2019, dan pihaknya melihat keberadaan tiang atau menara telekomunikasi yang diadukan Yayasan Satria melalui Kantor Hukum Law Firm Fakta Meruya & Partners tersebut berdiri pada bahu jalan.

Siti juga menyebutkan bahwa pihak yang berwenang mengenai perizinan dan penempatan antena atau menara telekomunikasi adalah kewenangan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) DKI Jakarta, sesuai dengan Peraturan Gubernur DKI Jakarta No 47 tahun 2017 tentang Penunjuk pelaksanaan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Izin Pelaksanaan Penempatan Bangunan Pelengkap Tiang/Antena Telekomunikasi mikro seluler.

Sebagai empunya wilayah, Camat Kembangan dituntut mengetahui setiap permasalahan yang di hadapi warganya. Namun, untuk kasus pembangunan monopole di dekat sekolah Satria, justru Kecamatan tidak dilibatkan. Ada apa ini?

Umar Abdul Aziz SPd SH selaku tokoh pemuda Kecamatan Kembangan mengkritik arogansi provider Smartfren yang mengabaikan pihak Kecamatan Kembangan, karena tidak melampirkan berkas perizinan serta tidak berkoordinasi terkait pembangunan monopole di sisi sekolah Satria.

Melalui surat No: 869/-1.712.85 tanggal 12 Agustus 2019 yang ditandatangani Camat Kembangan Agus Ramdani, menjelaskan menara monopole yang berdiri di dekat sekolah Satria, Jalan Raya Srengseng RT 05/06 Kelurahan Srengseng masih dalam proses pemberian perizinan di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi DKI Jakarta.

Orangtua “demo”
Perlu diketahui, kasus ini mencuat ketika ratusan orangtua siswa Yayasan Satria mendatangi pengelola sekolah untuk mempertanyakan keberadaan menara monopole Smartfren yang dibangun di dekat areal sekolah.

Ratusan orangtua siswa itu khawatir radiasi gelombang magnetik dari pemancar sinyal telepon seluler dapat menyebabkan memburuknya kesehatan anak didik yang menuntut ilmu di sekolah tersebut.

Kekhawatiran orang tua itu sangat beralasan, sebab menurut ilmuwan di University of California, San Fransisco baru-baru ini menemukan bahwa radiasi gelombang magnetik dari pemancar sinyal telepon seluler terbukti buruk buat kesehatan.

Dikutip dari laman boldsky.com, uji coba yang dilakukan pada tikus membuktikan bahwa tikus yang terlalu dekat dengan pemancar sinyal seluler mengalami penurunan kesehatan.

Tikus tersebut juga ditemukan mengalami perubahan pada otot tubuhnya. Lebih mengerikan lagi, pembentukan lemak di tubuh terjadi semakin cepat dan tidak terkendali. Peneliti bahkan menemukan bahwa ada kemungkinan otot tubuh mengurai dan berubah menjadi lemak ketika terinfeksi radiasi pemancar sinyal.

Pengawasan kendor
Ketua Yayasan Satria ketika dikonfirmasi nyata sangat kecewa atas kendornya pengawasan instansi terkait.
Didampingi Pengawas Yayasan Satria ketika dikonfirmasi menjelaskan bahwa pihaknya tidak pernah ditemui pihak smartfren maupun vendornya untuk membicarakan rencana pembangunan tersebut.

Pengawas Yayasan Satria berharap pihak provider maupun vendornya agar membongkar bangunan menara monopolenya, dengan harapan kesehatan anak didik yang bersekolah tetap terjaga dan tidak terganggu oleh radiasi gelombang magnetiknya.

Umar Abdul Aziz SPd SH selaku tokoh pemuda Kembangan menegaskan bahwa DPMPTSP DKI Jakarta harus terbuka kepada publik, dan menjelaskan legalitas menara monopole yang berdiri di samping sekolah Yayasan Satria.

“Bila memang tidak mengantongi izin, Citata DKI jakarta maupun Citata Jakbar wajib menerbitkan rekomtek agar Satpol PP dapat membongkarnya,” tegas Umar Abdul Aziz.

Umar amat menyayangkan pihak vendor tidak dapat menunjukan ijin kepada pihak sekolah dan berharap bangunan ini segera dibongkar, karena khawatir dengan kesehatan dan keamanan peserta didik di Yayasan Satria. fp01

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments