Kamis, April 15, 2021
BerandaTokoh Pemuda Kembangan: Pelajaran Berharga Bagi yang Tetap Inginkan Keutuhan Bangsa dan...
Array

Tokoh Pemuda Kembangan: Pelajaran Berharga Bagi yang Tetap Inginkan Keutuhan Bangsa dan Negara

Jakarta, Faktapers.id – Terjadinya peristiwa Manokwari sebuah ironi. Pasalnya peristiwa  yang menyedihkan itu terjadi menjelang peringatan Hari Kemerdekaan RI dan setelah peringatan Hari Kemanusiaan Internasional. Hari yang bahagia, penuh syukur itu telah ternodai atau malah dinodai. Bagai yang mengingkari kemajemukan adalah mengingkari anugerah Tuhan atas bangsa ini.

“Indonesia memiliki keberagaman adalah sunatullah yang semestinya menjadi modal, menjadi kekuatan dan kebanggan, bukannya suatu kelemahan. Disayangkan ada yang mengingkari kemajemukan itu, sehingga tidak bisa toleran terhadap orang lain yang berbeda dalam banyak hal. Bahkan malahan melemparkan ujaran-ujaran yang merendahkan harkat dan martabat kemanusiaan saudara-saudara kita dari Papua. Walaupun sama-sama warga negara Indonesia, yang memiliki hak dan kewajiban yang sama. Pastinya hal tersebut tindakan mengingkari kemajemukan dan perbedaan, yang menggambarkan bahwa politik rasial masih ada dan hidup di negeri ini,” kata Tokoh Pemuda Kembangan, Umar Abdul Azis, S.Pd, SH, di kantornya, Kembangan, Jakarta Barat, Selasa (20/8/2019).

Meski begitu, lanjutnya, aksi pembakaran sejumlah gedung, memang, tidak dapat dibenarkan, apa pun alasannya. Demikian juga, tindakan berbau rasialis juga sangat tidak bisa dibenarkan di negara berideologi Pancasila ini. Bukankah kita bersaudara? Kita satu bangsa. Kita Indonesia. Indonesia adalah negara beragam pulau, adat dalam banyak hal: suku, etnis, bahasa, agama, budaya, dan sebagainya.

“Jika hal itu dibiarkan atau dipelihara pasti akan menimbulkan bahaya berkelanjutan. Harusnya kita  bisa keluar dari belenggu sikap-sikap arogansi merasa sebagai warga negara kelas satu. Kita harus bisa merubah kesombongan diri? Apakah kita tidak bisa move on dari keangkuhan diri, padahal kita sudah merdeka 74 tahun lamanya,” ujar Umar yang juga Advokat ini.

Menurut pria yang hobi olahraga ini, sikap-sikap tidak menghargai sesana hanya akan menghambat kemajuan bangsa dan negara, Dan lebih parah lagi adalah akan mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Sangat bisa dipahami bahwa Seperti dikatakan Presiden Jokowi, “Saudara-saudaraku, Pace, Mace, mama-mama di Papua, di Papua Barat, saya tahu ada ketersinggungan. Oleh karena itu, sebagai saudara sebangsa dan setanah air, yang paling baik adalah saling memaafkan.

Umar menjelaskan untuk itu saling memaafkan adalah tindakan yang paling baik, sebagai manusia beriman, sebagai manusia berbudaya, sebagai manusia maju yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan persaudaraan. Seperti berani dan mau minta maaf telah dicontohkan Gubernur Jawa Timur Kofifah Indar Parawangsa dan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini atas peristiwa yang melukai hati masyarakat Papua, yang merusak persaudaraan di wilayahnya.

Demikian pula  sikap dilakukan Gubernur Papua Lukas Enembe yang mengajak rakyatnya untuk tetap menjaga harmoni, untuk tidak menanggapi peristiwa Malang, Surabaya, dan Semarang secara berlebihan menerjang adat dan budaya.

Sungguh, mereka adalah para pemimpin  patut dicontoh, yang sangat dibutuhkan negeri ini yang sangat majemuk, yang bukan mustahil setiap kali terjadi gesekan. Kita, bangsa ini membutuhkan pemimpin-peminpin yang lapang hati, berkepala dingin, bijaksana, dan sungguh-sungguh mengayomi.

Meski begitu, saran pria yang juga ikut aktif melestarikan budaya Betawi ini,  langkah tersebut harus dibarengi tugas aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindaknya sesuai dengan ketentuan hukum atas pelaku  yang telah mengobarkan api permusuhan, memprovokasi sehingga merusak persaudaraan. Mereka harus ditindak tegas. Negara kita adalah negara hukum. Bila tindakan semacam itu dibiarkan, bukan mustahil akan berulang lagi.

“Kita berharap peristiwa yang mengkoyak-koyak nilai-nilai kemanusian, harmoni dan persatuan serta kesatuan tidak terulang kembali. Sebab, bukan tidak mungkin kejadian seperti itu akan dimanfaatkan oleh mereka yang tidak menginginkan NKRI yang ber Pancasila, ber-UUD 1945, dan ber bhinneka tunggal ika ini tetap utuh,” tandas pemilik Bonkar FC dan Faktapers FC.

Harus waspada, tidak lengah dan menututup mata bahwa ada orang-orang dan kelompok yang memiliki niat jahat seperti itu. Menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua yang tetap menginginkan keutuhan negara dan bangsa,” pungkas Umar. fp03

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments