oleh

Akibat Kemarau, Petani Sawah di Mahulu Terancam Gagal Panen

Mahakam Ulu, faktapers.id – Meski sejak sepekan terakhir mulai turun hujan di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Kaltim, namun akibat musim kemarau lalu masih berdampak terhadap harga kebutuhan pokok masyarakat di dua kecamatan perbatasan.

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) mengungkapkan, akibat kemarau yang melanda mencapai 3 bulan membuat kondisi pertanian khususnya sawah di Mahulu mengalami stagnan (melambat) bahkan gagal panen bagi petani.

Kepala Dinas DKPP Mahulu, Saripudin SE menjelaskan bahwa kekeringan akibat kemarau itu menyebabkan sawah petani hanya bisa menghasilkan panen sebanyak 60 persen dari harapan semula 100 persen.

“Musim kemarau pengairan sawah sangat sulit. Bendungan dan sungai sekitar persawahan mengering,” terangnya kepada koresponden Harian Fakta Pers dan faktapers.id Perwakilan Kubar-Mahulu, Rabu (2/9/19).

Saripudin mengungkapkan, kondisi pertanian saat musim kemarau lalu di Mahulu lebih parah lagi karena dinas belum memiliki peralatan bantu untuk memompa dan mengangkut air.

“Belum ada alatnya. Baru diajukan ke provinsi. Saat musim kemarau sawah mengering, itu membuat gagal panen,” urainya.

Menurutnya, akibat kemarau tersebut berdampak luar biasa bagi masyarakat perbatasan, terutama di Kecamatan Long Pahangai dan Long Apari karena harga kebutuhan pokok melonjak. Beras harus didatangkan dari Samarinda melalui Kubar, biaya angkutan sangat mahal.

“Ongkos angkut mahal, stok juga terbatas. Kalau lewat darat 1 ton per mobil (carteran) Rp 4 juta. Melalu transportasi sungai (Longboat) Rp 4 juta tapi bisa mengangkut 4 ton beras,” katanya.

Dia menuturkan, di Kabupaten Mahulu hingga saat ini telah terbuka seluas 1.435 hektare sawah. Yang sudah beroperasi seluas 200 hektare di Kampung Datah Bilang, 108 hektare di Long Hubung, 50 hektare di Laham, dan 17,5 hektare di Ujoh bilang.

“DKPP Mahulu mengupayakan agar pada 2021 mendatang luasan sawah di 5 kecamatan se-Mahulu genap menjadi 2000 hektare. Mulai tahun ini akan dikejar pencetakan sawah baru seluas 650 hektare untuk memenuhi target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Mahulu,” kata Saripudin.

“Apabila luasan sawah yang sudah ada tersebut bisa rutin menanam 2 atau 3 kali setahun, saya yakin Mahalu tidak akan kekurangan beras kedepan,” tukasnya.

Namun meskipun luasan sawah di Mahulu sudah terbuka cukup luas di 5 kecamatan itu, Saripudin tidak menampik jika produksi beras lokal masih belum mencukupi untuk kebutuhna masyarakat.

“Target kebutuhan beras bagi lokal Mahulu belum bisa terpenuhi. Pada 2018 lalu Mahulu kekurangan 1.660 ton beras dan harus didatangkan dari luar daerah,” tuturnya.

Saripudin menyebut, dari jumlah luasan sawah yang sudah ada jika dimaksimalkan dengan sumber daya manusia serta sarana prasarana, maka Mahulu akan mampu swasembada pangan.

“Dengan dua kali tanam setahun. Kendala saat ini karena dinas belum mampu memotivasi secara langsung masyarakat dengan pertanian sawah,” ungkapnya.

“Kadang-kadang dinas bangunkan prasarana pertanian, tetapi setelah jadi tidak mau dipakai petani. Oleh karena itu dinas memotivasi secara bertahap kepada petani,” tandasnya. iyd

Komentar

News Feed