Jumat, September 17, 2021
BerandaMistisZiarah ke Makam Datuk Banjir Sejumlah Larangan Harus Ditaati

Ziarah ke Makam Datuk Banjir Sejumlah Larangan Harus Ditaati

Faktapers.id  –  Kisah Syekh Syarif Hidayatulloh /Pangeran Syarif  Bin Syekh Abdurrohman atau yang lebih akrab dikenal dengan nama Eyang Datuk Banjir Lubang Buaya, yang makamnya terletak 1,5 km dari arah Monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya. Beliau salah satu Wali Allah di Jakarta yang sampai kini kuburannya masih dikeramatkan.

Konon kisah Datuk Banjir dari Lubang Buaya ini dikenal saat dirinya semasa hidup melawan penjajahan Belanda dan Jepang, dimana saat itu  rakyat kecil yang berjuang di desa lubang buaya saat itu sedang diserang oleh pasukan Belanda.

Karomah Waliyulloh yang dimiliki Pangeran Syarif  saat itu dengan berdoa, maka para kompeni Belanda melihat Desa Lubang Buaya seperti Lautan Air Banjir hingga mereka tak berani untuk melewatinya. Sejak itulah dirinya dijuluki Pangeran Syarif Datuk Banjir atau Eyang Datuk Banjir oleh masyarakat lubang buaya pada jaman dahulu kala.

Hingga saat ini kepercayaan tersebut masih dianggap penting dalam suatu  perayaan masyarakat, agar tidak pernah menggelar acara kesenian yang dapat mengundang maksiat, karena pada dahulu kala ini sangat dibenci oleh Datuk Banjir. Hiburan tersebut seperti Ronggeng, Wayang Golek, Doger, Cokek termasuk warung Gadis Tukang Kopi yang biasanya selalu mangkal bila ada perayaan dangdutan.

Hingga kini tidak akan pernah ada sejarahnya berani membuka pertunjukan itu di sekitar daerah lubang buaya yang dekat dengan makam Eyang Datuk Banjir.

Bahkan group Bokir dan kawan-kawan yang tinggalnya di daerah ceger tidak jauh dengan Lubang Buaya juga sangat pantang untuk melakukan pertunjukan hiburan Wayang Golek disana.

Ada terjadi ada beberapa orang yang nekat melakukan acara hiburan yang dibenci oleh Datuk. Tiba-tiba datang banjir, para pemainnya banyak yang sakit dan ada yang kesurupan.

Selain itu ada juga mitos tentang Buaya Putih Mata Satu yang akan selalu muncul sebagai Tanda Peristiwa Besar yang akan dialami bangsa Indonesia, seperti Misteri Penampakan Buaya Putih sebelum meletusnya pemberontakan G30 S PKI.

Pernah juga di tempat Makam Keramat ini juga Ki Joko Bodo berniat melakukan Syuting bersama kru -kru filmnya, namun karena kurangnya koordinasi, Ki Joko lupa meminta izin kepada keturunan Eyang Datuk Banjir hingga membuat keluarga keturunannya marah dan mengusir Ki Joko Bodo berserta kru-krunya. Padahal rumah tempat tinggal Ki Joko Bodo dengan Makam Kramat Datuk Banjir hanya berjarak sekitar 500 meter.

Berziarah ke Makam Datuk Banjir

Datuk Banjir juga diakui sebagai sosok lahirnya nama Lubang Buaya untuk kawasan di Jakarta Timur, tempat makam ini berada.

Jika berziarah ke Makam Datuk Banjir, awal memasuki ruangan makam Datuk Banjir, maka nuansa mistis sangat terasa. Hawa dingin langsung berembus, meski tidak ada AC dalam ruangan tersebut.

Kuburan Datuk Banjir itu terletak di kompleks makam keramat Lubang Buaya, Jakarta Timur ada empat nisan berjajar yang berisi jasad orang sakti dan juru kuncen makam. Mereka berasal dari keluarga Datuk.

Untuk memasuki kompleks pemakaman peziarah dapat melalui dua jalur. Pertama jalan setapak agak lebar di samping dinding pembatas kolam pancing. Kemudian jalan lainnya melalui pematang sawah yang bisa diakses melalui belakang kompleks rumah warga.

Kemudian setiba di depan lokasi pemakaman, peziarah akan disambut dua patung harimau kecil yang nangkring di tiang depan kompleks. Disisi kiri, ada pohon beringin. Kondisi akarnya yang menjuntai menambah kesan mistis di tempat tersebut.

Menurut sang juru kunci makam keramat, Yanto, peristiwa aneh kerap terjadi di kompleks pemakaman Datuk Banjir. Ini lantaran peziarah tidak mengindahkan aturan yang ditetapkan dimakam keramat tersebut. “Jadi kemarin ada perempuan tiba-tiba kakinya jeblos di lantai keramik ini sedalam betis. Padahal saat diketuk lantai itu sangat padat.

Diketahui ada sejumlah larangan yang harus ditaati oleh para peziarah,  berasal dari petuah sang kakek yang disampaikan secara turun-temurun.

Slah satunya untuk masuk sini, enggak boleh pakai seragam apa pun. Mau tentara, polisi atau siapa pun. Asal muasal larangan ini berasal dari satu peristiwa yang diceritakan turun-temurun. Kala itu, Indonesia masih dijajah Belanda. Para serdadu hendak menyerang Datuk Banjir dan warga Lubang Buaya. Lalu Datuk Banjir berdoa. Mendadak kawasan itu seperti danau. Para serdadu pun merasakan seperti tenggelam meski tak ada air.

Malahan katanya ada yang peziarah yang langgar pantangan memakai seragam tentara. Dia alami kayak kelelep dan tenggelem di jalan ono, padahal kagak ada air.

Selain pantangan tersebut, peziarah juga harus memiliki niat bersih. Penyakit hati seperti sombong harus dihilangkan. Kalau tidur atau jika rebahan, kepala harus menghadap salah satu arah angin dan tak boleh tidur atau menduduki ranjang serba putih tadi. Pantangan terakhirnya, tak boleh membawa topeng apa pun mendekati makam.

Untuk tata cara berdoa, Yanto menyebut, tak ada pantangan. Terserah peziarah ingin berdoa apa pun. “Doa ini sudah diajarkan turun-temurun, saya ndak bisa menyebutkannnya, tapi kalau memang ingin berdoa, mari saya bimbing,” sebut Yanto.

Tak hanya itu, juga menawarkan air yang diklaim sebagai obat penyakit. Air itu bisa ditimba sendiri dari sebuah sumur sekitar 2 meter, atau minta ditimbakan..

Dua batang pohon tumbuh dekat sumur tersebut. Lima langkah dari sumur, terdapat sebuah bangunan yang berisi empat makam berderet. Di sudut paling gelap ruangan, terdapat kereta tanpa kuda terparkir.

Soal kereta, Yanto memiliki kisah tersendiri. Semasa kakek dan ayahnya masih hidup, ia kerap mendengar gemerincing kereta saat menjelang senja. “Itu Nyi Roro Kidul singgah. Beliau biasanya sore-sore datangnya, tapi sejak ayah saya meninggal, ia jarang datang,” terang Yanto.

Yanto menyebutkan setiap kuncen per generasi memiliki kelebihan masing-masing. Misal neneknya yang juga menjadi kuncen memiliki kelebihan menjaga sebuah golok warisan dari Datuk Banjir.

“Dulu nenek juga menjaga keris bongkok dan satu wayang kulit besar. Tapi yang saya, cuma jaga golok. Kalau keris bongkok sama wayangnya sudah pergi dengan sendirinya, pergi dengan gaib,” ungkap Yanto. (dari berbagai sumber).

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments