oleh

Covid -19 Membuat Polisi Dengan Masyarakat Sudaji Bersitegang

Singaraja.Bali.Faktapers.id – Ketegangan terjadi saat krama Adat Desa Sudaji Kecamatan Sawan/Buleleng warganya mengalami kesurupan/kerauhan pada Rabu (25/3) pukul 22.10 wita. Ketika itu krama adat sedang melaksanakan Nyepi Caka 1942 atau menjalankan Catur Bherata Penyepian memohon keselamatan lahir batin kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Kala itu malam hari, warga sedang melaksanakan Catur Bherata Nyepi,  dua warga bernama Luh Suryawati  dan Made Kendri perempuan asal Dusun Desa  mendadak kesurupan. Kesurupan keduanya diduga ogoh-ogoh yang mestinya diarak saat pengerupukan atau upacara pecaruan Rabu (24/3) tidak dilaksanakan warga.

Sisi lain warga Dusun Ceblong  kaget mendengar suara  tembakan 3 kali yang keluar dari Pura Pucak Batu Bedil,pura tersebut diyakini warga setiap keluar bunyi menandakan akan terjadi bencana.  Suasana Desa Sudaji pun mencekam dan seluruh warga keluar rumah malam itu dan  berkumpul di ruas jalan hingga pagi hari. Kesurupan dua warga itupun kerama adat mendapat bisikan agar ogoh-ogoh diarak segera bersama Barong Desa.

Ketegangan pun terjadi Kamis(26/3) menurut Kades Sudaji Ngurah Fajar kepada Faktapers.id Polisi  Polsek Sawan datang dan menghalau warga sedang  berkumpul hendak mengarak ogoh-ogoh.

“Kami sedang mediasi bersama adat, Polisi tidak mau koordinasi datang main sikat suruh mendekati yang kesurupan tidak berani. Kami sebagai kepala Desa ditendang juga, Polisi Polsek Sawan datang bersama unsur pimpinan membuat masyarakat sudaji resah dan masyarakat yang merekam situasi itu disuruh hapus dan tidak dikasih.Kami menilai Polisi arogan sekali masuk kedesa,”ujar Kades Sudaji.

Pembubaran krama adat Sudaji  yang  dilakukan Polisi Polsek Sawan  untuk memutus tali penyebaran virus Corona (Covid19) yang kini sedang menghantui masyarakat. Setelah dilakukan mediasi bersama jajaran Polres Buleleng dengan para pemangku adat akhirnya ogoh-ogoh untuk mengusir Buta Kala dilaksanakan namun ada ketentuan yang harus ditaati krama adat supaya tidak berkumpul secara beramian.

Kades Sudaji Ngurah Fajar yang mantan Jurnalis, menambahkan atas kesepakatan dan mediasi bersama adat ogoh-ogoh tetap dilaksanakan Kamis (26/3) pukul 14.00 wita, namun secara simbolis dan warga tetap berada dirumah masing-masing.

Kesimpulan tadi setelah terjadi ketegangan polisi dan masyarakat, dan hasil paruman  Adat dengan Dinas  ogoh-ogoh dilaksanakan sebagai pelengkap upacara yang kemarin ditunda dan itu dilakukan ditempat seperti balai banjar dengan simbolis serta itu sebagai upah kepada sang pencipta alam atau buta kala setelah itu ogoh-ogoh kembali disimpan.

Untuk pementasan Barong itu dilaksanakan di seputaran Pura Dalem oleh prejuru adat tujuanya untuk menghalau wabah penyakit yang sedang menghantui masyarakat.

“Nah untuk keamanan supaya tidak terjadi lagi miscomonikasi warga dengan aparat  keamanan saya sendiri selaku kepala Desa Sudaji mengharapkan agar Kepolisian dan TNI untuk ikut menjaga dengan kekuatan penuh warga desa kami,sehingga pelaksanaan upacara secara simbolis berjalan aman damai dan warga tetap berada dirumah masih masing,”jelas Kades Sudaji Ngurah Fajar.

Sisi lain Polisi Polres Buleleng melalui Kabag Ops A.A Wiranata Kusuma menghadiri mediasi itu dikonfirmasi Faktapers.id seijin Kapolres Buleleng mengatakan, hasil mediasi dengan Krama adat desa Sudaji sudah disepakati tidak mengarak ogoh-ogo.

“Tetapi ogoh-ogoh bentuk buta kala hanya prelina di tempat saja oleh manggala dan pemangku di desa, dan itu pun kita batasi jumlahnya hanya 8 orang. Kami tidak melarang upacara adat,yang kita batasi hanya kerumunan massa. Mudah-mudahan dengan doa yang dilakukan Krama adat virus Covid-19 bisa hilang,”jelas Kompol A.A Wiranata.(Des)

Komentar

News Feed