oleh

Aktivitas New Normal

-Opini-60 views

Oleh: Erik Hadi Saputra*

Kaprodi Ilmu Komunikasi dan Direktur Kehumasan Hubungan Internasional, Universitas Amikom Yogyakarta

Pembaca yang kreatif, Sabtu (9/5) lalu saya mengisi kuliah motivasi bersama Dr Abdul Gafur, Dekan Fakultas MIPA Universitas Lambung Mangkurat. Kuliah ini mengangkat tema ‘Mewujudkan Kemerdekaan Belajar Melalui Media Daring Saat Kondisi Pandemi Covid-19’. Kuliah yang dilaksanakan oleh Program Studi Matematika ini diikuti oleh mahasiswa prodi tersebut dan mahasiswa dari luar prodi serta ada yang dari luar universitas. Salah seorang mahasiswa dari Aceh yang bernama Dewal Fauzi bertanya tentang bagaimana masyarakat yang harus mulai terbiasa dalam pola hidup normal yang baru (new normal). Pertanyaan ini mengarah bagaimana perubahan tingkah laku masyarakat dalam masa Covid-19 dan pasca-Covid-19 nanti.

Pembaca yang kreatif, seperti yang kita ketahui bahwa kampus di Indonesia juga berproses tentang aktivitas pembelajaran jarak jauh saat ini. Keluhan kuota atau pulsa menjadi tantangan Ketika pembelajaran berlangsung secara daring. Dr Abdul Gafur menjawab pertanyaan Dewal Fauzi dengan mengatakan, “Apa yang kita hadapi saat ini adalah sesuatu yang tidak normal. Akan tetapi saya berkeyakinan, apa yang kita hadapi tidak normal saat ini akan menjadi normal di waktu yang akan datang. Sehingga kalau kita merasa sibuk, ruwet atau susah dengan e-learning, kuliah daring dan sebagainya ini. Percayalah, nggak akan lama lagi memang itu yang harus kita hadapi, sehingga lebih baik kita bersikap positif menanggapinya sambal mempersiapkan diri menghadapi situasi new normal itu.”

Pembaca yang kreatif, Prof Wiku Adisasmito, Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, mengatakan new normal adalah kehidupan yang akan dijalankan seperti biasa namun ditambah protokol kesehatan. New normal ini diusulkan sejalan dengan belum ditemukan vaksin atau penangkal virus korona. Sangat jelas dalam kegiatan yang kita lihat dan rasakan. Sebenarnya kita sudah mulai melakukan aktivitas new normal itu. Seperti ketika kita datang ke tempat umum, sekarang selalu tersedia hand sanitizer atau wastafel pencuci tangan dengan sabun. Ketika kita memasuki kantor/gedung diminta melalui screening suhu tubuh. Saya ingat sekali pada masa sebelum istri melahirkan, kami beberapa kali kontrol di klinik kandungan dan dokter menggunakan penghalang plastik dalam melayani pasien sebagai penerapan jaga jarak fisik (physical distancing). Bahkan di rumah sakit, ada dokter maupun perawat melayani pasien dengan menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap.

Pembaca yang kreatif, penerapan jaga jarak fisik juga akan Anda temukan di tempat perbelanjaan atau restoran. Saat ini tentunya sudah menjadi pemandangan lumrah di ruang publik, banyak orang menggunakan masker. New normal yang juga sangat terlihat adalah meningkatnya pesan-antar makanan ke rumah demi menghindari kerumunan di restoran atau rumah makan. Banyak restoran hanya melayani jasa take away atau pesan antar. New normal juga membentuk kebiasaan baru saat pulang ke rumah. Di mana seseorang langsung mencuci tangan dan berganti pakaian. Sepertinya tidak akan ada cium pipi kanan-kiri saat bertemu rekan atau sahabat. Bahkan bisa saja tidak ada lagi pelukan hangat saat ketika bertemu sanak keluarga.

Pembaca yang kreatif, kebiasaan-kebiasaan baru, seperti menjaga jarak fisik, mencuci tangan, memakai masker, menempelkan kedua telapak tangan di depan dada (menghindari jabat tangan) ketika ketemu orang tentulah menjadi sesuatu yang tidak biasa pada mulanya. Namun ketika orang sudah mulai berdamai dengan kondisi saat ini, maka akan muncul kebiasaan normal yang baru, mulai rileks, mulai enjoy melakukan itu semua. Semoga dengan tenangnya kita menghadapi situasi ini, membuat kita semakin belajar bagaimana menyesuaikan dan menjaga diri dalam aktivitas new normal.

Sehat dan sukses selalu.

Komentar

News Feed