oleh

Bapak-Anak di Sidoarjo Negatif Covid, Hampir Sebulan Jalani Isolasi

Jatim, faktapers.id – Lega dan bahagia dirasakan keluarga PN, 42, Kamis (28/5). Keluarga yang tinggal di Kecamatan Buduran, Sidoarjo, Jatim ini mendapat kabar bahwa hasil tes Swab terhadap PN dan anaknya, MP, 13, yang sebelumnya dinyatakan positif Covid-19, menunjukkan hasil negatif.

Spontan, keluarga kecil yang terdiri atas suami, istri, dan dua anak tersebut berangkulan dan mengucap syukur.

”Kami sangat gembira dan bersyukur. Ibarat mendapat sebongkah emas. Karena selama ini kami harus saling menjaga jarak,” ujar PN.

Cerita bermula pada 23 April 2020. Karena rekan kerja ada yang dinyatakan positif Covid-19, PN dan teman-teman sekantor yang pernah berinteraksi dengan orang tersebut diminta menjalani tes Swab. Hasilnya keluar 1 Mei 2020. PN dinyatakan positif. Meskipun dia merasa badannya sehat-sehat saja. Karena itu PN masuk kategori OTG (orang tanpa gejala). Sejak saat itu juga, dia dan keluarga harus mejalani isolasi mandiri di bawah pengawasan Puskesmas Buduran.

Tanggal 3 Mei 2020, istri, anak-anak, dan tetangga kanan-kiri menjalani rapid test. Hasilnya, semua non-reaktif. Tapi, selang beberapa saat, hasil untuk MP, anak pertama PN diralat. Dia dinyatakan reaktif. Tanggal 6 dan 9 Mei, MP menjalani tes Swab di RSUD Sidoarjo. Hasilnya, sama seperti ayahnya. Positif Covid. Statusnya juga sama, OTG. Kemungkinan besar dia tertular dari PN. Pada saat yang sama, sang ayah juga menjalani tes Swab untuk kali kedua dan ketiga. Hasilnya juga masih dinyatakan positif covid.

Selama masa karantina mandiri di rumah, keluarga PN terus menjaga jarak. Termasuk tidur juga terpisah. Asupan makanan benar-benar mereka jaga. Mereka konsumsi vitamin C yang diberikan pihak Puskesmas. Mereka juga rajin mengkonsumsi jahe,beras kencur, madu, kurma, buah-buahan, dan beberapa makanan yang dapat meningkatkan daya tahan dan imun tubuh.

Pada saat isolasi mandiri inilah empati dari para tetangga dan kenalan berdatangan. Mereka memberikan dukungan dalam berbagai macam bentuk. Ada yang terus menanyakan perkembangan kesehatannya. Ada yang mengirim makanan, buah-buahan, mi instan, dan lain-lainnya. ”Karena itu, saya berterima kasih kepada tetangga atas support-nya. Baik support moril maupun materi,” ujar PN.

Tanggal 8 Mei, seorang kenalan yang tinggal tak jauh dari rumah PN mengirimkan lima botol obat herbal probiotik. Obat itu merupakan kiriman dari salah seorang perwira menengah polisi yang tinggal di Jakarta. Namanya AKBP Dr Gede Suyasa. Obat itu rutin diminum PN dan keluarga yang memberikan efek langsung terhadap kindisi badan yang dirasakan semakin membaik. Karena itu, PN juga berterima kasih kepada Gede Suyasa. ”Terima kasih obatnya. Allah yang akan membalas,” ucapnya.

Perjuangan keluarga PN melawan Covid-19 mendekati ujungnya pada tanggal 27 dan 28 Mei. Selama dua hari berturut-turut, PN dan MP menjalani tes Swab. Hasilnya, keduanya dinyatakan negatif. Virus yang ditakuti banyak orang itu telah hilang dari tubuh bapak dan anak tersebut.

Momen menjalani isolasi menjadi pengalaman tak akan terlupakan bagi PN dan keluarga. Pengalaman menyenangkan dan tidak menyenangkan datang silih berganti. Ada yang menjauhi dan menstigma negatif. Tapi ada juga yang menaruh empati.

”Saya mohon maaf kepada tetangga, karena sedikit banyak kami telah membuat mereka tidak nyaman,” kata PN.

Menurut PN, positif Covid bukan aib. Sehingga tak seharusnya distigma negatif. Apalagi seakan harus menerima sanksi sosial. Karena yang demikian justeru akan menambah stres penderita.

”Virus ini kan tidak beterbangan di udara. Kalau sudah di rumah terus mestinya aman,” ujar pria yang bekerja sebagai karyawan swasta tersebut.

Kini, setelah hasil Swab negatif, PN merasa plong. Meskipun, dia juga belum berani beraktifitas di luar rumah. ”Saya masih isolasi di rumah. Masih menunggu petunjuk Dinkes.”

AKBP Dr Gede Suyasa yang berdinas di Bareskrim mabes polri sebagai Kanit II juga ikut senang mendengar kabar bahwa orang positif Covid-19 yang meminum obat yang dikirimnya telah dinyatakan sembuh.

”Alhamdulillah obat herbal tersebut bisa membantu kesembuhan masyarakat yang terinfeksi Covid-19,” katanya.

Gede menyatakan, obat tersebut didapatnya dari Laksma Dr Suradi yang telah banyak diekspose media bahwa dia memiliki ramuan tradisional yang mampu membantu proses penyemuhan penderita Covid-19. Banyak penderita Covid-19 yang dinyatakan sembuh setelah minum obat tersebut. Antara lain seorang anggota polri di Banjarbaru, Kalsel dan anak bayinya yang masih berusia 1,6 bulan.

”Mudah-mudahan obat herbal tersebut bisa diproduksi masal sehingga bisa membantu masyarakat lebih banyak lagi dan mampu meringankan beban pemerintah dalam penanggulangan penyebaran Covid-19 di Indonesia,” ujar Gede.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo drg Syaf Satriawarman Sp.Pros menyatakan bahwa orang positif Covid19 yang telah dua kali menjalani tes Swab dua kali dengan hasil negataif, maka dinyatakan sembuh. Mereka akan mendapatkan surat keterangan dari rumah sakit yang diketahui Dinkes.

”Isinya menyatakan bahwa mereka telah sehat,” katanya.

Bagi yang sudah sembuh, lanjut Syaf, mereka bisa beraktifitas kembali. Termasuk berkegiatan di luar rumah. Meski demikian, mereka tetap disarankan untuk mengisolasi diri guna memastikan kondisinya benar-benar sehat.

”Tidak perlu dua pekan. Cukup isolasi selama tujuh hari,” ujarnya. Dia juga berpesan, bagi mereka yang telah sembuh dari Covid-19, harus tetap menjaga agar imun tubuh tetap baik. Sebab, tidak menutup kemungkinkan, mereka yang sudah sembuh tersebut bisa tertular kembali. des

Komentar

News Feed