oleh

Belajar Dari Covid-19, Siswa SMPN 6 Singaraja Diajarkan Program CBT

Singaraja, faktapers.id – SMP Negeri 6 Singaraja terbilang sekolah favorit di wilayah Kota Singaraja, dengan jumlah siswa mencapai 985 anak, merupakan jumlah yg tidak sedikit, perlu berbagai inovasi dalam menjalankan kegiatan sekolah.

Kepala SMPN 6 Singaraja Nyoman Sudiana, S.Pd., M.Pd , saat membagikan sembako di areal sekolah didampingi Ketua Komite Putu Suastika, S.Sos mantan Lurah Banjar Tegal, Sabtu (23/5) siang, mengatakan sembako yang dibagikan tersebut bersumber dari sumbangan iklhas dari para guru-guru, pengurus komite, rekanan dan orang tua siswa yg peduli dan ikut berbagi untuk orang tua siswa yang paling sangat terdampak covid-19 akibat ekonomi lemah.

Ada 145 paket sembako yang dibagikan. Pada awalnya terdaftar 77 orang namun disiapkqn 100 paket, namun akhirnya menjadi 145 paket sembako yang dibagikan, karena ada sumbangan 11 paket tambahan dari guru SMPN 6 Singaraja.

“Kami mohon maaf jika ada orang tua siswa yg belum tercover,” kata kepala sekolah.

Di sisi lain pada saat bersamaan kepala sekolah menjelaskan kegiatan belajar di rumah dengan daring berjalan dengan baik. Pembelajaran menggunakan Whatsapp (Wa), Google Class Room, Google Form dan PAT dengan CBT online.

Dengan jumlah siswa hampir mencapai ribuan itu, pihak sekolah dapat menerapkan program pembelajaran daring berkat kerjasama semua pihak stake holder sekolah, siswa, guru, komite dan orang tua siswa.

“Jumlah siswa 985 dari kelas 7,8,9 dan sekarang kita sedang test Penilaian Akhir tahun dengan CBT Online Computer Based Test, dan ini baru yang menjalankan hanya di SMP 6 dan SMP N 1 Singaraja. Sebelum dilakukan test yang sebenarnya kita uji coba selama 3 hari dan evaluasi apa yang menjadi kendala yang dihadapi siswa. Pada saat PAT CBT online, hari kedua peserta mencapai 94 persen dari peserta sekitar 680 dan yang ikut kelas 7.8, dan perkelas ini yang tidak belum mampu hanya sekitar 1 sampai 3 orang tetapi itu kendalanya tidak punya HP, tidak punya kuota, Dalam program CBT itu jika ada siswa yang tidak bisa sama sekali ada program susulan di sore hari dan soalnya kembali dibuka, penerapannya seperti test CPNS. untuk siswa yang tidak punya kuota, sekolah akan membantu jika siswa itu masuk dalam katahori tidak mampu,” ujar Nyoman Sudiana.

Menurut Kepsek Sudiana penerapan CBT itu belajar dari virus Pandemi Covid-19, pasalnya diawal SMP 6 Singaraja pembelajaran dengan IT sangat terbilang Zero atau sama sekali tidak mengenal.

”Ini belajar dari covid-19, pada awalnya siswa SMP 6 pembelajaran dengan IT sangat Zero, mungkin kemarin hanya kelas 9 yang sudah diuji coba karena di UM
NBK. Dan syukurnya sebelum informasi belajar di rumah resmi didapatkan dan kita belajar melalui grup Whatshapp dan soal difoto serta materinya, melalui webinar kepala sekolah berusaha mencari pembelajaran daring apa yg cocok diterapkan di sekolah” jelasnya.

Nyoman Sudiana menambahkan untuk kelulusan kelas 9 rata-rata nilai yang diambilkan dari nilai ulangan harian serta UTS sehingga tidak ada kendala dalam kelulusan itu meski US dan UNBK ujian berbasis ditiadakan.

“Jadi SMP 6 dalam meluluskan siswanya tidak mengada-ada nilai, bahkan belajar mereka di rumah hanya menambah nilai yang belum sempurna sehingga kita memiliki data untuk menilai. Dan untuk kelulusan mereka akan mengacu pada nilai rapor semester 1/5 ditambah nilai dari semester 6 dan nantinya itu kita olah sesuai hasil rapat melalui Vicon dengan Zoom,” imbuh Nyoman Sudiana. des

Komentar

News Feed