oleh

Mengenang Sejarah, 2 Pemuda di Klaten Lakukan Perjalanan Spiritual

Klaten, faktapers.id – Perjalanan spiritual laku Badar Giyanti dengan berjalan kaki dari Jogja ke Klaten serta dari arah Solo, tepatnya Kartasura Sukoharjo ke Klaten dilakukan oleh 2 pemuda di Klaten yaitu Agung Bakar dan Iwan Purwoko.

Menurut sejarah, Badar Giyanti yang berarti sebuah upaya membadarkan Perjanjian Giyanti yang sudah terbangun sejak tahun 1755.

Munculnya Perjanjian tersebut, telah membelah Bumi Mataram. Sejak saat itu, Bumi Jogja dan Bumi Solo dianggap tak lagi bersatu.

Hal tersebut, melatar belakangi adanya laku spiritual yang dilakukan Agung Bakar dan Iwan Purwoko dan bertepatan dengan hari jadi Kabupaten Klaten yang ke-216.

Badar Giyanti dikandung maksud ingin mengembalikan Bumi Mataram kembali nyawiji. Solo dan Jogja kembali nyawiji secara spiritual. Nyawiji sebagai penerus Bumi Mataram dan Bumi Nusantara.

Badar Giyanti diawali dengan laku jalan kaki menuju titik nol kilometer di Klaten yang berada di pinggir Jl. Pemuda Klaten. Lokasi titik nolo kilometer tepatnya di Kampung Kanjengan, Kelurahan Bareng, Kecamatan Klaten Tengah.

Titik nol kilometer Klaten diyakini berjarak 30 kilometer (km) ke Jogja dan 35 kilometer ke Solo.

Ritual pertama, Agung Bakar yang berdomisili di Desa Kranggan, Kecamatan Polanharjo, Klaten, mengambil start dari Keraton Kartasura, Sukoharjo, menempuh perjalanan panjang menuju ke titik nol kilometer Klaten.

Perjalanan dimulai Senin (27/7) pukul 19.30 WIB. Agung Bakar sempat berhenti beberapa kali di Jalan Solo-Jogja sebelum akhirnya tiba di titik nol kilometer Klaten, Selasa (28/7) pukul 06.08 WIB. Di kesempatan itu, Agung Bakar membawa kain berwarna merah.

Maksud ritual yang kedua, Iwan Purwoko yang berdomisili di Nglinggi, Klaten Selatan, Klaten, mengawali laku jalan kaki dari makam raja Jawa di Kota Gede, Jogja, Senin (27/7) pukul 20.00 WIB hingga sampai di titik nol kilometer Klaten, Selasa (28/7) pukul 09.07 WIB. Iwan Purwoko juga membawa kain namun berwarna putih.

Agung Bakar dan Iwan Purwoko saling bertemu di titik nol kilometer Klaten. Pertemuan keduanya diharapkan menandai berakhirnya jiwa-jiwa yang gelisah dengan munculnya Perjanjian Giyanti 1755.

Pertemuan itu diharapkan menjadi simbol nyawijinya Bumi Mataram untuk keutuhan dan kemajuan negeri. Selanjutnya, kain merah dan putih yang dibawa Agung Bakar dan Iwan Purwoko dijahit oleh Marta agar menjadi satu, yakni menjadi Sang Saka Merah Putih. (Madi)

Komentar

News Feed