oleh

Diduga Tidak Transfarasi, Penerima BSU Desa Kalibukbuk Hanya Keluarga Interen Oknum Kadus

Singaraja.Bali.Faktapers.id-Penyaluran Bantuan Stimulus Usaha (BSU) untuk penanganan dampak pandemi Covid-19 dari pemprov Bali diduga tidak tepat sasaran.

Seperti yang terjadi di Dusun Celuk Buluh Desa Kalibukbuk Kecamatan Buleleng, pencairan itu diduga kurang tepat sasaran bahkan ada indikasi para penerima didusun tersebut rata-rata teman akrab dan keluarga sang Kadus.

Jumlah penerima BSU di Dusun Celuk Buluh setelah didata mencapai sejumlah 70 orang, rata-rata menerima Rp,1.800.000, namun bantuan itu disinyalir dipolitisir oleh  oknum. Sebelumnya pendataan  telah dilakukan oleh Kadus Celuk Buluh Putu Suardika,Spd terhadap warganya yang mengajukan selaku penerima ke Pemdes.

Kadus Putu Suardika pihaknya tak memasang papan penerima Bantuan di Balai Dusun atas dasar tidak berani melampoi kebijakan Kades Ketut Suka, namun pihaknya hanya mengumumkan melalui Fecebook.

“Karena memang tidak ada tembusan resmi dari diskoperindag warga khusus Kalibukbuk yang dapat bantuan. Dan itu juga  kebijakane pak mekel selaku kades. Warga yang dapat bantuan dan tidak punya medsos saya cari kerumahnya,”ujar Suardika.

Atas ketidak tepatan penyaluran tersebut, warga Celuk Buluh mulai bergejolak karna Kadus diduga tidak transfaran dan tidak pernah menempel nama – nama penerima bantuan pada papan pengumuman yang ada di balai dusun. Salah satu warga bernama Agus Cahyadi, Ketut Sudiarta dan beberapa warga lainya mulai mengeluhkan, karena yang mestinya dapat malah dikesampingkan. Bahkan setelah ada salah satu warga yang bernama Ketut Sudiarta meminta data penerima BSU ke kantor desa akhirnya diberikan data tersebut oleh Sekdes ternyata data yang diberikan tidak valid, dan setelah di cek data tersebut kurang lengkap akhirnya Ketut Sudiarta kembali lagi ke kantor desa meminta kembali data lengkap namun bahasa dari Sekdes menyuruh Ketut Sudiarta agar mencari sendiri data tersebut di internet secara online.

Apakah memang seperti itu kinerja seorang sekdes untuk melayani masyarakat?,  tutur bapak Ketut Sudiarta kepada awak media.

Menurut beberapa warga Celuk Buluh kepada Faktapers.id Selasa (15/9),  bahwa banyak warga yang tidak mempunyai usaha medapatkan bantuan tersebut dan ada indikasi sebagian besar keluarga kadus Putu Suardika dan teman dekat menerima BSU, “Padahal dari pembagian BLT kami sudah ada permintaan kepada kadus untuk menempel di balai dusun semua data penerima bantuan sosial berbentuk apapun dari pemerintah dengan maksud kalau di tempel di balai dusun semua masyarakat bisa mengetahui dan ada keterbukaan (transfaransi) kadus kepada masyarakat tetapi tidak ada respon. Kalau benar kepemimpinanya bersih,adil dan pemerataan untuk masyarakat semestinya dari pihak kadus menempel.  Apa lagi pembagian BSU ini semua data tidak valid dan tidak tepat sasaran,”ujar Agus Cahyadi.

Akhirnya setelah Ketut Sudiarta mendapatkan data yang kurang lengkap, kemudian data tersebut di shere ke acount Fecebooknya, oleh Agus Cahyadi menariknya berujung datang  sms melalui hp Ketut Sudiarta yang dikirim oleh Kadus Putu Suardika ,” Ada sms dari Kadus mengatakan Om Swastiastu we, Orahin Crew ne Koming … telaang serangane mesuang, tp ingetang antiang  serangan balikne.De mepangenan. Be tre ngelah nyama braya dini  kapain serem. Jeleme tetekaan ke Celukbuluh kapain ngendah bin serem,”kata Sudiarta

Kalau diartikan ke bahasa Indonesia “Salam rahayu om, sampaikan kepada Crewnya Koming .. keluarkan semua seranganya, tapi ingat tunggu serangan balik. Jangan nyesal.Sudah tidak punya keluarga disini jangan sok. Orang pendatang ke Celukbuluh jangan macem-macem dan sok”

Menurut Agus Cahyadi, Kadus disinyalir arogan menjalankan kepemimpinanya. Koming yang di maksud diduga bernama IKomang Agus Sanjaya yang telah lama tinggal berdomisili di Dusun Celuk buluh desa Kalibukbuk.

Setelah kami konfirmasi I Komang Agus Sanjaya yang sering di pangil mang agus atau koming masalah sms itu dia menanggapi dengan santai. “Kenapa si kadus sms tujuannya ke saya kok melalui orang lain itu aneh kan ?”, dan ada bahasa tetekaan/pendatang  saya dari tahun 1983 sudah tinggal disini mungkin si kadus belum lahir saya sudah tinggal disini, KTP saya asli warga Celuk Buluh dan itu sah sudah di akui oleh Negara.Saya baca  ada bahasa saya dan Crew, bisa saja masalah ini akan melebar dan mungkin nanti saya bersama crew akan melaporkan masalah ini kepada pihak yang berwajib karena ada indikasi pengancaman dan membuat ketidak nyamanan seseorang,” papar Komang Agus. Des

Komentar

News Feed