Bantah Tuduhan Berniat Lakukan Pelecehan Seksual, JS: Ini Hanya Salah Faham RDC Saja

×

Bantah Tuduhan Berniat Lakukan Pelecehan Seksual, JS: Ini Hanya Salah Faham RDC Saja

Sebarkan artikel ini

Jakarta, faktapers.id – JS membantah tuduhan telah berniat melakukan pelecehan seksual terhadap seorang perempuan berinisial RDC yang telah melaporkan dirinya ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM) Perempuan. Lewat laporannya pada Jum’at (11/12/2020) lalu, RDC yang juga rekan satu partainya itu mengatakan bahwa JS diduga berniat ingin melakukan dan mengajak untuk melakukan berhubungan badan melalui pesan WhatsApp (Chat dan Voice Notes).

Atas dasar itu JS menanggapi tuduhan itu dengan legowo sambil memaparkan rentetan Chat dan Voice Notes atau percakapan keduanya melalui aplikasi WhatsApp . “Saya juga bingung, kok jadi seperti ini. Saya rasa ini hanya salah faham saja. Menurut saya RDC salah memahami maksud dari obrolan kami,” papar Jestro mengkonfirmasi kepada awak media di seputar  Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan pada Selasa (15/12/2020).

Klarifikasi usai rapat internal itu, JS mengatakan bahwa dialah yang sebenarnya menjadi ‘korban’ dari RDC. Meski demikian JS tetap akan akan menjaga hubungan pertemanan yang baik diantara mereka dengan meminta awak media tidak menudutkan RDC. “Sebenarnya sayalah yang merasa dirugikan dalam hal ini, selain mencemarkan nama baik. Ok saya akan ceritakan semuanya dari awal, tapi tolong jangan sampai memojokan RDC dalam pemberitaan ya, saya sebenarnya juga kasihan terhadap dirinya,” pinta JS.

Dengan wajah sedikit iba, JS pun mulai merunut ‘alkisah’ obrolannya dengan RDC yang berbuntut pada pengaduan di Komnas Perempuan itu. Menurut JS, awal perjumpaan dirinya dengan RDC bermula pada 15 Juni 2020 ketika mengantar pulang RDC karena hari sudah larut malam. waktu itu kami (saya dan 2 orang teman) mengantarkan dia pulang ke hotel di daerah Kapuk, Jakarta Utara. Menurut JS karena merasa hubungan pertemanan semakin akrab maka RDC pun menceritakan kehidupan pribadinya mulai dari sebagai seorang terapis hingga situasi ekonomi. Namun keesokan harinya (16/6/2020) RDC menjapri JS untuk meminjam sejumlah uang untuk kebutuhan biaya sekolah anaknya. Kebetulan saat itu JS sedang tak punya uang sehingga ia tak mampu untuk membantunya.

Menurut JS, permasalahan antara dirinya dengan RDC dimulai pesan WhatsApp ketika ia pada 7 Desember 2020 yang mengajaknya ke hotel lantaran JS mengira RDC masih tinggal di hotel yang kala itu JS mengantar RDC pulang sekaligus minta di pijit olehnya mengingat ybs juga merupakan seorang terapis pijat.

“Sebenarnya yang dipermasalahkan RDC adalah chatan saya pada tanggal 7 Desember 2020, terkait tulisan saya yang dianggapnya telah melecehkan dirinya, padahal jelas dalam tulisan saya tidak ada unsur pelecehan sama sekali. Saya juga tidak menulis dalam WA, bahwa akan mengajak dirinya berhubungan intim, disitu saya cuma mengajaknya ke hotel karna saya mengira dia juga masih tinggal di hotel yang dulu saya antar dan ada hal yang lain akan saya bicarakan dengan dirinya, sekalian saya minta di pijit olehnya, karna saya tau bahwa profesi dia adalah seorang terapis pijat,” terang JS.

Tak hanya itu, menurut JS, kalimat WhatsApp yang mungkin disalah artikan dengan RDC adalah kalimat ‘terus ke lobang’ dan kalimat yang mengatakan dirinya telah ditipu RDC. Tapi menurut JS, kalau ada kalimatnya yang dianggap melecehkan dan membuat RDC marah seharusnya RDC menanyakan hal tersebut langsung kepadanya. Sehingga dirinya bisa menjelaskan semua. Sebab kalimat terus ke lobang itu maksudnya hanya gurauan seperti layaknya tukang parkir yang berkata ‘terus,..terus,.., terus-terus terus masuk lobang’.

“Sebenarnya, kalau menurut RDC chatan saya melecehkan dirinya, kenapa saat itu dia tidak marah, atau menegur saya langsung. Kalimat terus ke lobang itu maksudnya hanya gurauan seperti layaknya tukang parkir yang berkata ‘terus,..terus,.., terus-terus terus masuk lobang’. Bahkan, ketika ditanya untuk cari kamar hotel dia membalas dengan menyanggupi agar segera transfer uang untuk booking hotel di daerah Cilincing, Jakarta Utara dan meminta saya segera transfer uang sebesar 400 ribu (300 ribu untuk kamar dan 100 ribu untuk deposit), namun saya hanya transfer ke rekening RDC sebesar 300 ribu, seraya berkata, untuk uang deposit nanti biar saya yang bayarkan cash ketika berada di hotel,” terang JS.

Meski demikian, dari peristiwa tersebut JS mengambil hikmah dan menyimpulkan bahwa sebagai orang yang berkarir dibidang politik dirinya harus mengontrol dan lebih bijak lagi dalam berkata-kata dalam sebuah percakapan dan pernyataan. JS juga mengatakan kalau permintaan dan pemberian uang pada RDC hanya sekedar dirinya merasa kasihan dan ingin membantu RDC dengan meringankan beban biaya sekolah anaknya, tapi setelah kejadian ini, dirinya akan lebih hati-hati kembali dalam membantu orang lain.

“Ya sudahlah, saya baru tau itulah yang namanya politik, saya juga baru pertama kali mengalami hal seperti ini selama bergelut dalam dunia politik, jadi ya agak kaget dan membuat saya kepikiran akibat pemberitaan tersebut. Jika saya tidak segera selesaikan hal tersebut, maka mungkin akan menghancurkan karir dan rumah tangga saya, yang telah saya bina selama ini.” tambahnya.

Menurut JS, dirinya kenal RDC sebagai orang yang baik. Pengaduan yang dilayangkan RDC ke Komnas HAM Perempuan diduga karena ada pihak lain yang mempengaruhi RDC. “saya kenal dia dia tidak seperti itu orangnya. Dia orang baik. Saya menduga pasti ada orang lain dibelakang dia yang menghasut dan mendorong dirinya untuk bertindak sejauh ini,” pungkasnya.

Semula, JS tidak mengindahkan peristiwa pelaporan RDC. Namun pada akhirnya ‘sangkaan’ pelecehan seksual terhadap dirinya harus ia tanggapi dengan sangat serius dengan menyampaikan klarifikasi dan tanggapannya. Menurutnya, kisah faktual untuk melakukan perbuatan yang tidak baik pada temannya ini tidak mungkin dia lakukan dalam kehidupannya. JS berharap, meski ada peristiwa dengan RDC, hubungan pertemanan masih bisa dilanjutkan dengan bekerja sama dengan baik. JS juga meminta apa bila ada masalah sesama kader sebaiknya diselesaikan secara internal. Sebab ada dewan partai, sehinga bisa diselesaikan di internal dulu. Dan meski dirinya telah menjadi ‘korban’, JS tidak berniat melakukan pembalasan dengan membawa kasus ini keranah hukum dengan melaporkan RDC pada pihak berwajib. Her

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *