Jumat, Juli 30, 2021
BerandaJawaFES Universitas Amikom Yogyakarta dan P2W LIPI Selenggarakan Webinar Nasional

FES Universitas Amikom Yogyakarta dan P2W LIPI Selenggarakan Webinar Nasional

Yogyakarta, Faktapers.id – Fakultas Ekonomi dan Sosial Universitas Amikom Yogyakarta bekerjasama dengan Pusat Penelitian Kewilayahan (P2W) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyelenggarakan kegiatan webinar nasional bertemakan “Covid-19 dan Deglobalisasi Ilmu Pengetahuan Harus Apa?”, Jumat (12/3/2021).

Kegiatan ini menghadirkan 2 pembicara dari P2W LIPI, yakni Prof. Cahyo Pamungkas dan Amin Mudzakir dengan 2 pembicara Dosen Fakultas Ekonomi dan Sosial Universitas Amikom Yogyakarta, yakni Mohamad Zuhdan Program Studi Ilmu Pemerintahan dan Aditya Maulana Hasymi Program Studi Hubungan Internasional.

Kegiatan ini dihadiri oleh 280 peserta dari berbagai wilayah dan institusi di Indonesia.
Dalam sambutannya Rektor Universitas Amikom Yogyakarta, Prof. Dr. M. Suyanto, MM memaparkan bahwa sejauh ini Amikom telah melakukan riset-riset kolaboratif bidang teknologi dan entrepreneurship untuk mengembangkan dan memperkuat industri kreatif di Indonesia, seperti industri film animasi.
“Universitas Amikom Yogyakarta juga sedang berjuang mewujudkan universitas generasi keempat kelas dunia (World Class University 4.0) dengan menjalin kerjasama dengan perusahaan dunia seperti Hollywood dan perusahaan yang menghuni Silicon Valley di Amerika Serikat,” ungkapnya.

Kemudian, Prof. Dr. Cahyo Pamungkas, S.E, M.Si menyajikan tentang bagaimana kontribusi ilmu-ilmu sosial terhadap permasalahan kebangsaan Indonesia dan beberapa agenda riset sosial yang perlu dikembangkan. Seperti pembangunan berkelanjutan, inklusivisme, daya saing bangsa, Industri kreatif, jejaring industri animasi di Indonesia, desentralisasi, nasionalisme dan fundamentalisme agama serta merumuskan riset tentang IPTEK dan kebudayaan.

Selain itu, lanjutnya, pengembangan kajian soal tata kelola pemerintahan, penguatan jejaring ilmu pengetahuan, infrastruktur, sumber daya manusia juga perlu mendapat perhatian.

Menurut Cahyo strategi pengembangan ilmu pengetahuan seharusnya lebih reflektif, kritis dan inovatif dengan melibatkan peneliti, akademisi dan stakeholder untuk memetakan agenda riset secara kolektif.

Sementara itu, Dr. Amin Mudzakkir, S.S, M.Hum. memberikan penekanan bahwa ilmu pengetahuan yang memprioritaskan pada nilai-nilai universal dan solidaritas internasional yang melampaui teritori negara bangsa menjadi diperlukan dalam mengatasi masalah Covid-19.
Ia berharap hasil temuan mampu mampu membuka cakrawala pengetahuan berbagai bangsa dengan cara mendekatkan teori, konsep dan riset ilmiah kepada masyarakat.

“Deglobalisasi’ dinilai menjadi masalah besar yang menjadi tantangan dalam hubungan antarbangsa dan mematikan pengembangan nilai-nilai universal dan solidaritas internasional,” ujarnya.

Dari sudut pandang Ilmu Pemerintahan, Muhamad Zuhdan, S.IP, M.A. menyoroti bahwa penanganan Covid-19 seharusnya tidak hanya memusatkan perhatian pada aspek kesehatan semata-mata, tetapi juga menyangkut lima hal.

Ia menyebutkan pentingnya riset kolaboratif tentang pengembangan humanitarian governance, agile governance, digital governance, collaborative governance, dan strategic communication sebagai agenda saintifik mengatasi masalah Covid-19.Dan yang juga menurutnya penting adalah membangun konektivitas ilmu pengetahuan antara akademisi, perumus kebijakan dan masyarakat.

Pada sisi ilmu hubungan internasional, Aditya Maulana Hasymi, S.IP, M.A. menyatakan bahwa Covid-19 berdampak signifikan terhadap aktor negara dan non-negara, serta keamanan internasional. Ilmu Hubungan Internasional perlu me-redefinisi keamanan internasional, terutama yang menyangkut keamanan manusia (human security).

Kemudian beliau juga menyoroti soal perlunya bina damai melalui pendekatan “digital peacekeeping” ditengah-tengah pembatasan mobilitas sosial. Pandemi Covid-19 harusnya lebih banyak mendorong aktor-aktor internasional untuk memperkuat multilateralisme maupun regionalisme daripada sekedar mengutamakan kepentingan nasional semata untuk mempertahankan rantai suplai perekonomian global.
“Bagaimana riset-riset ilmu Hubungan Internasional dapat mewujudkannya,” katanya.

Sebagai penutup, Hanantyo Sri Nugroho, S.IP, M.A., selaku moderator kegiatan webinar menyimpulkan, bahwa gagasan utama yang disajikan oleh pembicara menekankan bahwa kolaborasi riset berbagai sektor di dalam negara dan dalam konteks jaringan internasiona,l merupakan kunci menghadapi permasalahan dunia yang semakin kompleks. []

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments