Sabtu, April 10, 2021
BerandaBaliKomisi IX DPR RI Kariyasa Adnyana Dorong Percepat Vaksinasi Pulihkan Pariwisata Bali

Komisi IX DPR RI Kariyasa Adnyana Dorong Percepat Vaksinasi Pulihkan Pariwisata Bali

Singaraja.Bali.Faktapers.id – Road Show Anggota Komisi IX DPR RI Ketut Kariyasa Adnyana,S.p sosialisasikan “Peluang Kerja Luar Negeri Dan Migrasi Aman”, kembali sambangi desa Pemaron kecamatan Buleleng/Bali.

Covid-19 tidak menjadi halangan bagi pria asli Desa Busungbiu ini, sembari sosialisasi Peluang Kerja Luar Negeri Dan Migrasi Aman Minggu (7/3) pukul 11.00 wita, kegiatan itu juga dikemas bagi sembako kepada lansia dan pemuda desa Pemaron.

Program Jokowi dalam mengatasi permasalahan pekerja mingran keluar negeri, Ketut Kariy asa Adnyana menggandeng UPT BP2MI Denpasar dihadiri langsung Wiam Satriawan,S.E, Kepala Biro Hukum dan Humas BP2MI pusat Sukmoyuwono. Kades Pemaron Putu Mertayasa, Made Ambu Kardika selaku Ketua PAC PDI.Perjuangan Buleleng.

Kades Pemaron Putu Mertayasa sangat apresisasi kedatangan dari DPR RI Ketut Kariyasa Adnyana membantu masyarakatnya baik dengan sembako bersama dari BP2MI,”Sosialisasi perlindungan terhadap pekerja luar negeri(Mingran) karena warga kami banyak yang putus pekerjaan dari luar negeri dan ini sangat berpengaruh positif sekali apalagi dengan keadaan ekonomi sekarang ini. Dengan adanya Pandemi ini dan pencerahan tetang bekerja keluar negeri yang aman masyarakat dapat menerimanya,”papar Mertayasa.

Dalam sambutan-nya Ketut Kariyasa Adnyana kepada peserta memaparkan di Komisi IX dikatakan alumi LC (Lulusan Covid), dari 55 anggota hampir semua pernah positif,”Kami sudah pernah positif dan astungkara terus negatif atau bila perlu kebal terhadap virus covid. Komisi IX adalah komisi yang paling sibuk dan disamping itu bagaimana kami dengan kementrian kesehatan mensukseskan Vasinasi ini,”ujar kepada peserta di wantilan Pura Desa Pemaron yang dihadiri puluhan warga.

Sementara Wiam Satriawan,S.E, selaku UPT BP2MI Denpasar, banyak kendala dihadapi PMI Pekerja Migran Indonesia, BP2MI merupakan badan pemerintas sebagai operator pelaksana penempatan pekerja migran yang dahulu bernama TKI. Kini berfungsi melindungi para pekerja migran sebelum dan sesudah berangkat, “Buleleng tendesius belakangan ini menempatkan PMI hampir 3000 lebih dalam lima tahun, sektor yang paling diminati adalah SPA dan Kapal Pesiar dan Perkebunan/Perhotelan/Perikanan. Peluang ini sangat besar apalagi Bali penumbang PMI jarang provinsi lain mengikuti Bali, jadi sumber informasi peluang kerja sangat besar apalagi berangkat bekerja secara mandiri. Jika sudah mempunyai Job Letter dan syarat lengkap, maka UPT BP2MI Denpasar satu hari jadi, “terang Wiam Satriawan.
Program Joko Widodo ini dinilai efektik dalam meningkatkan SDM para penyumbang devisa negara itu. Sebelumnya Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019 mencatat tren Tenaga Kerja Indonesia (TKI) merosot dalam sepuluh tahun terakhir. Rata-rata penurunannya 7,36 persen per tahun.

Kepada awak media Faktapers.id, Ketut Kariyasa Adnyana memaparkan, “Dulu kan di sebut Kartu Kuning sekarang dengan nama e-KTLN gunanya bagi mereka yang ingin mencari kerja di luar negeri, akan menggunakan kartu tanda kerja luar Negeri (KTKLN) elektronik atau e-KTKLN. Nah kami dipusat sudah menyuarakan,”ujarnya.

Kariyasa juga menjelaskan terhadap virus pandemi yang masih meningkat dan membunuh pariwisata di Bali bahkan negara telah mengeluarkan anggaran mencapai 1.300 Triliun secara keseluruhan,

“Bagi kita masyarakat Bali ini dampak yang paling parah dialami, tetntu ini memerlukan penanganan yang estra dan kami sudah beberapa kali rapat dengan kementrian menyuarakan aspirasi masyarakat Bali akibat dampak Covid ini. Pariwisata sangat ketergantungan dari segi keamanan dan kesehatan, kalau keamanan tidak bagus seperti dulu Bom Bali pariwisata anjlok. Begitu juga sekarang dari segi kesehatan ini adalah faktor utama karena tidak mungkin orang berwisata ketempat yang masih mewabah. Nah salah satu mengatasi itu program vaksinasi dan kami khusus di Bali mempercepat proses vaksinasi ini dan Bali kini membutuhkan 6 juta vaksin dan kami mendorong dari 12 bulan untuk bisa 6 bulan selesai,”jelas Ketut Kariyasa Adnyana,S.p. Des

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments