Headline

Petani Garam Bali Utara Menjerit, Garam Murah Diduga Spekulasi Tengkulak

272
×

Petani Garam Bali Utara Menjerit, Garam Murah Diduga Spekulasi Tengkulak

Sebarkan artikel ini

Singaraja.Bali.Faktaper.id – Para petani garam di sentral produksi Desa Pejarakan, Gerokgak kini tengah mengurangi produksi garam mereka.

Keputusan yang diambil para petani garam ini pasalnya selain harga murah juga didompleng hasil produksi dari luar Bali seperti Jawa dan Sumbawa yang di pasok ke Bali. Namun harga garam Bali di pasaran kirasaran harga Rp,5000 rupiah per 1kg tetapi di petani tetap dengan harga Rp 500 rupiah perkilogram yang dibeli para tengkulak .

Kondisi ini berdampak dengan penyerapan hasil produksi petani yang tidak maksimal, selain faktor cuaca yang kurang memungkinkan untuk produksi juga kendala hasil panen tidak sesuai karena harga jual saat ini sangat anjlok.

Seperti yang dikatakan petani garam Pejarakan bernama Hairi yang juga pencinta Lingkungan mengatakan ketika awak media Minggu (4/7) menyambanginya di Pejarakan, Hairi memiliki 10 petak tambak garam dan dikelola oleh tenaganya,”Di petani garam 400/500 rupiah dibeli oleh pengepul, anehnya kita beli di pasaran kisaran 5000/3000 paling rendah perkilo, ini sebelumnya sudah saya sampaikan dengan dinas perikanan katanya tidak bias naikan pasar. Pengepul melempar kepasaran diharga 2000/3000 an. Karena alasan pengepul garam Sumbawa /Madura masuk jadi garam Bali murah,”ujar Hairi.

Menariknya hasil produksi saat musim hujan dan panas, harga garam petani tambak Pejarakan tetap saja berada dikisaran 500 rupiah kebawah, Hairi memiliki 10 petak dan itu biaya yang dikeluarkan persatu musim(3 bulan) mencapai 5 juta jika mendapat hasil panen 30 ton , jika musim kemarau paling tidak 15 ton hasilnya dengan biaya oprasional sebesar itu. Keuntungan yang dibagi tiga dengan pekerjaanya sangat lah tipis dan tidak sesuai,

”Sekarang mendekati musim hujan masih 500 rupiah nanti musim kemarau turun pasti,kalau kita stok dan tidak jual harus butuh modal oprasional. Kita harapkan kondisi ini pemerintah Bali yaitu dinas perdagangan dan perindustria, dinas perikanan yang membawahi kami kok tidak bias stop suplay garam yang katanya datang dari luar Bali…?.Sedangkan desa kami bias menghasilkan garam pertahun hamper 2000 ton. Kenapa garam Bali harganya dibuat anjlok sehingga membunuh petani disini

Diketahui petani garam di Buleleng, Bali, sempat berhasil memproduksi garam piramida. Garam ini telah berhasil diekspor ke sejumlah negara seperti Jepang dan Australia dengan kualitas yang sangat bagus . Dikatakan, Buleleng menjadi satu daerah penghasil garam terbesar. Sebab, daerah ini memiliki garis pantai terpanjang di Bali. Sementara produksi garam banyak ditemukan di Desa/Kecamatan Tejakula dan Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak. Namun kini garam piramida sudah tidak diproduksi kembali, entah kenapa setiap hasil produksi terjadi penurunan harga

Satu di antaranya dengan menerapkan sistem penyimpanan ketik musim penghujan. Mengingat produksi garam hanya dapat dilakukan ketika musim kemarau. Sementara ketika musim penghujan, petani tidak dapat memproduksi karena kadar garamnya rendah dan kesulitan ketika proses pengeringan. Des

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *