BaliDaerah

Isu Adanya Bandara Bali Utara Masyarakat Kubutambahan Kembali Memanas Tolak Dilaut

×

Isu Adanya Bandara Bali Utara Masyarakat Kubutambahan Kembali Memanas Tolak Dilaut

Sebarkan artikel ini

Singaraja, Faktapers.id -Gejolak terjadi di Desa Kubutambahan adanya isu dibangunnya bandara Internasional kondusi desa semakin memanas.

Sabtu (22/1/2022) PT BIBU Panji Sakti kembali mengadakan pertemuan dengan Pengurus Paguyuban Pemangku se-Desa Kubutambahan, Ketua dan Sekretaris Kelompok Nelayan se-Desa Kubutambahan, Pengurus Pecalang se-Desa Adat Kubutambahan, Kelian Banjar Dinas se-Desa Kubutambahan, di Kantor PT BIBU Kubutambahan.

Hal bersamaan juga terjadi, kelompok masyarakat yang menolak pembangunan Bandara Internasional Bali Utara di laut penolakan

Kali ini dua komponen masyarakat penolak bandara di laut yang turun. Yakni masyarakat nelayan dan tokoh masyarakat Kubutambahan dikoordinir KOMPADA, serta Barisan Setia Merah Putih pimpinan anggota DPRD Bali Jro Ray Yusha yang turun menyampaikan aspirasi penolakan dengan membawa spanduk di sepanjang jalan utama (Pantura) wilayah Desa Kubutambahan.

Mantan pemimpin DPC Gerindra Buleleng Jro Ray Yusha dengan tegas menyatakan penolakan terhadap pembangunan Bandara di laut. Kata dia, itu merusak habitat laut, menghancurkan mata pencarian para neyalan dan merusak tempat melasti bagi umat Hindu.

“Kami sekarang tidak ada muatan-muatan politik, sekarang muatan kami adalah membela masyarakat. Kami tahu sebagai wakil rakyat, sudah jelas menyerap aspirasi masyarakat, memperjuangkan kepentingan masyarakat. Itulah yang kami namakan mengedepakan local genius, tidak menggangu kearifan local, mendukunhg penuh nangun sat kerthi loka Bali. Dengan pantainya, dengan segara kerthinya, dengan nelayannya harus tetap dilestarikan,” tandas Jro Ray Yusha.

Lanjut Rai Yusa sembari memasang spanduk,

“Saya dengan tokoh masyarakat, Barisan Setia Merah Putih, menolak adanya Bandara menjorok ke laut. Pokok pembangunan Bandara di laut kita tolak,” tegas.

Dengan nada tegas, Ray Yusha mempertanyakan niat investor yang bermaksud merusak local genius dengan menunggangi situasi keluguan masyarakat saat ini.

“Ada apa dengan pengusaha ini? Memanfaatkan momen-momen, mengundang masyarakat dan segala macam. Kalau saya diamkan ini, wah ini sudah membunuh karakter, local genius kita ditunggangi terus ini,” kritiknya.

Ray Yusha menuding investor sedang mencari uang dengan menjual masyarakat melalui pertemuan-pertemuan yang digelar saat ini. “Investor ini cari uang juga. Dia mau menjual masyarakat kecil kita ini,” sindir Rai Yusa.

Gede Suardana, tokoh masyarakat, sangat menyayangkan sikap Perbekel Kubutambahan I Gede Paryadyana, SH, dan Ketua Penghulu Desa Adat Kubutambahan Drs Ketut Warkadea, M.Si, yang turut menandatangani surat undangan dari PT BIBU Panji Sakti untuk pertemuan tersebut.

“Saya sebagai krama adat Kubutambahan kecewa. Surat undangan yang dikeluarkan PT BIBU untuk meminta krama adat Desa Kubutambahan untuk menyetujui apa yang diprogramkan PT BIBU, dan undangan itu Perbekel dan Kelian Desa Adat Kubutambahan, turut mengundang, itu sudah tidak benar menurut kami,” kritik Suardana.

Suardana mengingatkan, kalau kedua pejabat itu mengatasnamakan krama adat, maka segala keputusan harus melalui paruman Desa Adat Kubutambahan. “Kalau hasil paruman itu menyatakan seluruh krama adat menyetujui, itu baru kami dukung. Ini dia bertindak sendiri, undang krama. Itu kegiatan PT BIBU, tapi Perbekel dan Kelian Desa Adat ikut mengundang, sudah tidak bener menurut kami,” tandas Suardana lagi.

“Saya berharap memperbaiki semua tatanan di Desa Kubutambahan. Jangan sembarang mengatasnamkan krama desa adat,” papar Suardana.

Kades Kubutambahan, I Gede Pariadnyana, SH, menyatakan dirinya harus hadir dalam pertemuan itu supaya bisa tahu apa yang diinginkan investor dan bisa membicarakan keinginan ke masyarakat Kubutambahan terkait rencana pembangunan Bandara tersebut.

“Saya akan tetap masuk ke dalam (ikut pertemuan yang digelar PT BIBU Panji Sakti, red) untuk memperjuangkan hak masyarakat kalua memang benar itu terjadi, apakah di darat atau di laut. Jangan sampai warga kami hanya menjadi penonton. Dan tatanan adat juga, Itu saja,” ucap Perbekel Pariadyana. ds

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *