Kamis, Oktober 21, 2021
BerandaJawaAngka Stunting di Indonesia Masih Tinggi Diatas 20 Persen

Angka Stunting di Indonesia Masih Tinggi Diatas 20 Persen

Klaten, faktapers.id – Kasus stunting atau gagal tumbuh pada anak balita di Indonesia masih tinggi dan belum menunjukkan perbaikan signifikan. Kasus tersebut mendapat perhatian serius oleh Presiden Joko Widodo.

Diakhir masa pemerintahannya ditargetkan angka stunting turun di angka 14 persen. Untuk saat ini angka stunting di Indonesia mencapai 27 persen. Sementara target WHO, angka stunting tidak boleh lebih dari 20 persen.

“Angka 27 persen itu tinggi, ini yang harus dipastikan angka turun tiap tahun,” ujar Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayan Keluarga (KSPK) BKKBN Pusat, M Yasin, di sela Sosialisasi 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) di Desa Kradenan, Trucuk, Klaten, Sabtu, (24/10).

Menurut M.Yani, kalau melihat target pemerintah, untuk setiap tahun paling tidak harus bisa turun sekitar 3 persen. Sehingga pemerintah menekan lagi diangka yang lebih kecil dibawah 20 persen.

“Beberapa faktor yang mempengaruhi stunting yaitu asupan gizi dan faktor sensitif. Stunting bisa terjadi tidak hanya di keluarga miskin saja, artinya keluarga mampu sekalipun bisa terjadi,” ujarnya.

Kemudian, faktor infeksi pada bayi pada bayi yang baru lahir sampai umur 2 tahun. Untuk mengurangi faktor infeksi ini diperlukan seperti air bersih, jamban yang harus dimiliki setiap keluarga dan faktor lingkungan yang sehat.

“Faktor itulah yang akan diperhatikan untuk menurunkan angka stunting, ini yang selalu dipesankan oleh bapak Presiden kepada kita semua atau masyarakat karena stunting bisa dicegah,” ucapnya.

Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas), hampir 50 persen remaja putri kekurangan gizi dan anemia, hal ini dikhawatirkan kalau mereka berkeluarga dan hamil bisa jadi ibu hamil yang kurang gizi.

“Potensi melahirkan anak yang kurang gizi sangat besar. Makanya perlu dipantau sejak dari masa remaja sebelum menikah, masalah anemia harus sudah teratasi baru menikah dan boleh hamil,” terangnya.

Sementara itu, Anggota DPRD Propinsi Jawa Tengah, Kadarwati mengatakan, dalam menekan angka stunting, Ia mendorong pemerintah lebih gencar mengintervensi pola asuh asupan gizi orang tua kepada anak.

Selain itu, perlu pengenalan 1000 hari pertama kehidupan (HPK), jadi anak yang lahir didunia ini dijaga bagaimana anak itu nantinya akan tumbuh dengan baik secara psikologis maupun secara fisik, untuk persiapan generasi penerus bangsa yang tangguh dan kuat.

“Kegiatan ini kenapa harus dilakukan? Karena untuk mempersiapkan generasi yang berkualitas. Hal itu sangat penting untuk menghadapi keadaan dunia yang akan datang, disiapkan sejak dini bahkan mulai dari kandungan pun harus disiapkan,” pungkasnya. Madi

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments