Bali  

BRI Berlakukan Kebijakan Baru Imbangi Kecanggihan Teknologi, Nasabah Mengeluh

IMG 20220920 WA0047 1

Singaraja, Faktapers.id – Salah satu nasabah Bank BRI Cabang Seririt, Buleleng, mengeluhkan saat melakukan transaksi di ATM, Selasa (20/9) siang.

Transaksi model Brilink yang akan dilaksanakan terkendala diduga pihak bank mempersulit nasabah dan diunggah oleh salah satu akun facebook. Ia terpaksa balik kucing setelah pegawai bank menolaknya melakukan transaksi berupa transfer, karena dianggap limitnya tak mencukupi. Bahkan disarankan agar melakukan transfer melalui layanan lain yang di miliki Bank BRI seperti BRILink.

Kekecewaan nasabah berinsial ZL ini ditumpahkan dengan menunda transaksinya sembari membawa uangnya kembali ke rumah. Melalui penjelasannya kepada awak media, ia mengaku hendak menyetor tunai sebesar Rp 4 juta sekaligus akan ditransfer kepada rekan bisnisnya. Namun belum mengambil nomor antrean, salah satu petugas bank menanyakan keperluannya. Setelah dijelaskan, pegawai tersebut lantas memintanya untuk keluar dan melakukan transaksi melalui cara lain di layanan BRI.

“Aneh saya ditolak taransaksi padahal saya mau transfer untuk rekan bisnis saya. Karena ditolak tanpa memberikan penjelasan detail, ya saya pulang lagi bawa uangnya. Saya menjadi bingung,” katanya, Selasa (20/9).

Menanggapi kebingungan nasabah itu, Menejer Operasional Bank BRI Cabang Singaraja, Made Karya Widiana didampingi Supervisor Penunjang Operasional, Nenik memberikan penjelasan, Selasa (20/9).

Menurutnya, saat ini Bank BRI tengah melakukan transformasi digitalisasi dalam layanannya. Dan itu menjadi kebijakan baru yang tengah disosialisasikan kepada masyarakat. Nantinya Sebagian transaksi akan lebih mudah melalui mesin setor tarik tunai alias Cash Recycle Machine (CRM).

“Kita sudah mulai bertransformasi secara digital. Kita sudah sediakan mesin CRM dan ATM yang sifatnya membantu masyarakat melakukan transkasi untuk mengurangi transaksi di banking hall,” terang Made Karya.

Menurutnya, pengenalan terhadap mesin digital merupakan kebijakan baru yang tengah disosialisasikan secara bertahap. Sehingga masyarakat lambat laun akan memahami kegunaan dan kepraktisan memanfaatkan mesin digital tersebut.

Namun demikian, layanan lain seperti Agen BRILink, katanya, untuk memudahkan nasabah dalam bertransaksi.

“Untuk kebijakan baru ini memang sedang dicoba untuk transaksi dibawah Rp 5 juta. Karena kecil mereka bisa mencoba melakukan transaksinya di CRM. Dan mesin itu kita sediakan untuk tarik tunia dan setor,” imbuhnya.

Made Karya menyebut saat ini BRI tengah memberikan edukasi sekaligus sosialisasi kepada masyarakat soal pola baru bertransaksi secara digital. Dan juga untuk menjawab keluhan lamanya antrean saat berurusan di bank.

”Kita mulai kenalkan sistim baru itu dan kalau tidak dicoba dulu kapan lagi kita bisa melakukannya dan itu akan lebih mudah,” ujar Made Karya.

Sementara soal keluhan salah satu nasabah Bank BRI soal layanan yang dianggap mendiskriminasi nasabah bertransaksi kecil, Made Karya membantahnya. Menurut dia, itu hanya soal miskomunikasi antara nasabah dengan pegawai Bank.

“Tekhnologi kita sudah canggih namun kebanyakan kita belum memiliki experience atau pengalaman mencobanya. Maka melalui kebijakan baru itu kita ingin mengenalkan jika bertransaksi melalui mesin CRM akan lebih mudah dan tidak perlu antre dan bukan memaksa. Dan itupun setelah dua bulan akan dilakukan evaluasi terutama soal transaksi di banking hall ada penurunan apa tidak,” terangnya

Nampaknya layanan perbankan ini akan meninggalkan sistim konvensional. Perlahan kebijakan baru soal alih tekhnlogi mulai diterapkan termasuk digitalisasi layanan. Proses perubahan itu nampaknya membutuhkan waktu Panjang mengingat tidak semua masyarakat atau nasabah bank akan memahaminya. (ds)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *